Terpikat Suara Azan, Tatiana Pilih Islam

 00allah

Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu Muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang kami rangkum dari beberapa situs.
“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.
“Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang Muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling
Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara Muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan masjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan Muslim, dilarang masuk ke dalam masjid,“ katanya.
“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.

Tertarik bahasa Arab
“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris dan Jerman.
Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.
Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan Muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Al-Quran

Ada juga beberapa warga Muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang Muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. “Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan Muslim,” kenangnya.
“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.
Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang disebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan Muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.
Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. “Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.
Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).
Saya bertanya kepada kawan-kawan Muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”
Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang. Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”
Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Setiap hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang Muslim.

Debar aneh
Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman Muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“
“Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang Muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.
Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.


Bersyahadah
Tatiana memberitahukan rekan Muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Seperti kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.
Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.


“Contekan” shalat
“Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya senang.
“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya. “Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.
Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. “Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya.

Selengkapnya.....

Seruan Gencatan Senjata PBB Mandul

Sabtu, 10 Januari 2009 09:41

GAZA -- Militer Israel akan tetap mempergencar serangan di Jalur Gaza, meski ada seruan PBB untuk segera mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua pekan.
Perdana Menteri Israel Prime Minister Ehud Olmert mengatakan, serangan roket terbaru ke Israel menunjukkan resolusi itu "tidak bisa dilaksanakan".
Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut menyerukan gencatan senjata, akses bagi pekerja bantuan dan solusi yang bisa bertahan lama atas konflik di Gaza.
Sementara itu, seorang pejabat senior PBB mengatakan, salah satu aksi Israel mungkin bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Komisaris Tinggi PBB urusan HAM, Navi Pillay, mengacu ke tuduhan kelalaian militer Israel untuk membantu warga sipil di Gaza dalam suatu insiden yang diungkapkan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) hari Kamis.

ICRC mengatakan, staffnya menemukan empat anak kecil yang lemah dan ketakutan di samping jasad ibu mereka di rumah yang diterjang bom Israel di kawasan Zeitoun di Kota Gaza.

Pillay mengatakan kepada BBC: "Insiden yang digambarkan Palang Merah sangat merisaukan, sebab itu memuat semua unsur yang menyusun kejahatan perang".
"Ada kewajiban untuk melindungi orang terluka, merawat si sakit, mengungsikan mereka ke tempat yang aman, dan di sini, menurut Palang Merah Internasional, serdadu Israel hanya berdiri dan tidak berbuat apa-apa untuk keempat bocah kecil dan seorang dewasa yang terlalu lemah untuk berpindah."
Badan Hak Asasi Manusia (HAM) menuntut peninjau HAM dikerahkan di Gaza, Israel dan Tepi Barat, sehingga setiap pelanggaran hukum internasional bisa didokumentasikan secara independen.
Lembaga tersebut sedang bersidang darurat di Jenewa untuk membahas pelanggaran HAM yang mungkin terjadi di Gaza.

Serangan udara
Israel melanjutkan bombardemen semalam dan juga pada Jumat pagi, dengan melancarkan sedikitnya 50 serangan udara, sebelum menghentikan operasi militer Israel selama tiga jam untuk memungkin bantuan masuk ke Gaza.
Sebanyak 75 truk yang mengangkut makanan dan obat-obatan akan diperkenankan masuk ke Gaza, kata Israel.
Hamas juga menepis seruan gencatan senjata PBB. Jurubicara Hamas di Gaza, Ayman Taha mengatakan: "Meski kami merupakan aktor utama di lapangan di Gaza, kami tidak diajak bicara soal resolusi ini, dan mereka tidak memperhitungkan pandangan dan kepentingan bangsa kami," katanya.
Saksi mata mengatakan kepada PBB bahwa sekitar 30 warga Palestina tewas awal pekan ini, sementara militer Israel memombardir sebuah rumah di distrik Zeitoun, Gaza; serdadu Israel sebelumnya telah memindahkan sekitar 100 orang, termasuk anak-anak, ke dalam rumah tersebut. Israel mengatakan, tuduhan itu tengah diinvestigasi.

Sejak konflik ini pecah pada 27 Desember, sekitar 778 warga Palestina diperkirakan terbunuh dan 14 orang Israel tewas sejauh ini. Menurut pejabat Kementerian Kesehatan di Gaza, dari 778 korban jiwa itu, 220 anak-anak, 89 wanita, dan 12 petugas ambulans.
Di Ramallah, Tepi Barat, ribuan warga berunjukrasa usai mengikuti salat Jumat sebagai ungkapan solidaritas dengan warga Gaza.
Wartawan BBC Aleem Maqbool di Ramallah mengatakan, unjukrasa lain terjadi di bagian lain Tepi Barat, meski banyak orang merasa seruan mereka untuk menghentikan tindak kekekerasan di Gaza tidak didengar oleh dunia luar.
Demonstrasi lain berlangsung di kawasan Timur Tengah usai salat Jumat. Demonstrasi terbesar berlangsung di kota Alexandria, Mesir, dengan melibatkan sekitar 50.000 orang, kata para pejabat.
Ribuan demonstran juga berunjukrasa di Kuwait, Yordan and Suriah. Demonstrasi lebih kecil digelar di Asia dan beberapa kota di Eropa.
Sebelumnya, seorang ulama terkemuka di Timur Tengah mengimbau muslim di seluruh dunia agar melancarkan unjukrasa hari Jumat untuk mengungkapkan kemarahan mereka atas tindak kekerasan.
Yusuf al-Qaradawi, yang ketua Perhimpunan Ulama Islam, mengatakan, salat Jumat akan digunakan untuk menyatakan solidaritas dengan bangsa Palestina.
Kabinet Israel bersidang Jumat pagi, beberapa jam setelah Dewan Keamanan mengadakan voting. "Penembakan roket pagi ini hanya menunjukkan bahwa keputusan PBB itu tidak bisa dilaksanakan dan tidak akan dipatuhi oleh organisasi Palestina yang suka membunuh," kata Ehud Olmert dalam pernyataannya.
Menurut laporan-laporan di media Israel, militan Hamas menembakkan sedikitnya 20 roket ke Israel selatan Jumat pagi.
Para pejabat di kantor PM Ehud Olmert dikutip mengatakan: "militer Israel akan tetap melindungi warga Israel dan melancarkan misinya".
Pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangan baru terhadap sasaran-sasaran di Gaza semalam, dan sedikitnya lima anggota dari satu keluarga terbunuh dalam salah satu serangan, kata saksi mata.
Dalam laporan yang tidak bisa diverifikasi secara independen, Hamas mengatakan, bom Israel meluluhlantakkan blok apartemen berlantai lima di Gaza utara.

Amerika abstain
Sebanyak 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan mendukung resolusi mengenai krisis Gaza, an Amerika Serikat abstain. Setelah voting di Dewan Keamanan, Menteri Luar Negeri Israeli Tzipi Livni mengatakan, Israel akan tetap melanjutkan aksi untuk keamanan warganya.
Israel ingin menghentikan serangan roket di Israel selatan dan menghentikan penyelundupan senjata oleh Hamas ke Gaza melalui Mesir, sedangkan Hamas mengatakan, kesepakatan gencatan senjata apa pun harus mencakup diakhirinya blokade Israel atas Gaza.
Hasil voting di Dewan Keamanan PBB yang hampir aklamasi merupakan perkembangan diplomatik penting dalam krisis ini, kata para wartawan.
Namun, sikap abstain Amerika memperlemah dampak hasil pemungutan suara, sebab dukungan Washington pasti mendatangkan tekanan lebih berat bagi Israel untuk menghentikan serangan, kata para wartawan.

Selengkapnya.....

Pengasuhan Abu Thalib & Perjalanan ke Syam

 

 

 

 

 

 

 

 

Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam tinggal dalam pengasuhan kakek beliau Abdul Muthallib sampai usia delapan tahun. Kemudian kakek beliau wafat. Sebelum wafatnya ia memberi wasiat kepada paman beliau Abu Thalib agar mengasuh beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Karena sang kakek mengetahui rasa sayang Abu Thalib kepada Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam.
Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantu paman beliau di dalam pekerjaannya. Abu Thalib mempunyai pekerjaan berdagang. Beliau menemaninya dalam perjalanan ke negeri Syam. Ketika itu beliau berusia dua belas tahun. Mereka tiba di sebuah tempat yang bernama Bushra, antara Syam dan Hijaz. Keduanya bertemu dengan seorang rahib. Nama rahib itu Buhaira.

Buhaira dapat mengenali Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam sebagai nabi terakhir. Karena ia melihat cincin kenabian di antara kedua pundak beliau. Dan ia mengetahuinya dari keadaan beliau yang yatim. Buhaira menyuruh Abu Thalib untuk mengembalikan beliau ke Makkah, karena ia mengkhawatirkan keselamatan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dari gangguan Yahudi.

Pernikahan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dengan Khadijah

Khadijah mengetahui kejujuran dan sifat amanah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Maka ia meminta beliau untuk berniaga baginya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salampun menyetujuinya. Beliau pergi ke negeri syam. Beliau kembali dari perjalanan ini dengan keuntungan yang besar. Maisaroh, budak Khadijah, menceritakan pada Khadijah apa yang dilihatnya. Ia bercerita betapa bagusnya akhlak Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Karena ketika itu Maisaroh bersama beliau dalam perjalanan ke Syam. Khadijah pun merasa kagum kepada beliau. Kemudian paman Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam Abu Thalib meminangkan Khadijah untuk beliau. Maka beliau menikah dengan Khadijah. Ketika itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam berusia dua puluh lima tahun. Dan pada saat yang sama Khadijah berusia dua puluh tujuh tahun. Ia adalah istri pertama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Ia melahirkan bagi beliau anak laki-laki yaitu Al Qasim. Ia juga melahirkan Abdullah yang digelari dengan Ath Thayyib dan Ath Thahir. Dan ia juga melahirkan anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Fathimah dan Ummu Kultsum.

Sumber: Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu'bah Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah al-Jami'ah al-Islamiyyah, Madinah

Selengkapnya.....

Cerita Anak-Anak Gaza

 

KOTA GAZA - Tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi, bahkan di dalam bangunan. Sekolah PBB pun dihancurkan. Lebih dari 215 anak terbunuh sejauh ini sejak serangan militer Israel diluncurkan 27 Desember lalu. Namun bagi hampir semua anak, itu bukan bagian terparah dari mimpi buruk mereka.
Kehilangan ayak, ibu, saudara, saudari, paman, bibi, teman, ataupun tetangga, hampir setiap anak di wilayah yang dibombardir itu trauma berat. Trauma itu bisa dipastikan menjadi luka fisik dan mental yang akan berbekas lama.
Berikut adalah beberapa wawancara dengan anak-anak Gaza.

Huda, 7 tahun
Aku benci perang ini. Aku dengar Israel akan datang ke rumah kami sesaat lagi, dan aku selalu bermimpi buruk tentang roket menghantam rumaku. Aku mimpi tentang ayahku yang terbunuh oleh salah satu roket dan leher ibuku yang terputus. Dalam mimpi itu pula, aku mencari saudara lelakiku yang dibawa jauh oleh tank-tank Israel. Aku sedih, dan ingin bermain lagi di rumahku. Aku berharap tidak ada hal buruk terjadi.

Abed, 3 tahun
Aku tak suka kegelapan, yakni ketika suara hal-hal buruk mulai keluar meraung.

Ahmed Elwan, 6 tahun
Kami takut. Aku melihat banyak anak-anak terbunuh. Beberapa roket meluncur dekat rumah kami. Adik perempuanku menangis keras begitu pula ibuku. Ayahku saat itu sedang berada di rumah nenek. Aku tak ingin takut, aku ingin menjadi lelaki kuat untuk ibuku dan adikku.

Nasim Udawn, 14 tahun.
Aku sudah terbiasa dengan suara bom, tapi kali ini mereka lebih,dan lebih keras. Aku tinggal di kemah pengungsi Al Shati di Gaza, dimana beberapa rumah sekitar sudah hancur. Banyak orang terbunuh. Rumah kami dihantam oleh peluru besar.
Masalahku sekarang ialah adik lelakiku Nader, yang mulai menderita kencing tak dapat ditahan. Ia kini langsung menangis keras ketika mendengar suara misil.

Zeyda Nima, 12 tahun
Saya tidak takut dengan bom ataupun roket, tentu tidak, tapi saudara saya takut. Saya tidak peduli dengan suara-suara itu, namun saudara perempuan saya dibawa ke rumah sakit karena tidak dapat mendengar akibat suara-suara pesawat dan bom.

Yehia, 5 tahun
Anak lelaki itu begitu trauma hingga tak bisa bicara. Ibunya Zinat mengatakan sejak awal serangan Israel, ia langsung menderita kencing tak bisa ditahan akibat takut terhadap bom. Sang ibu menuturkan pula, anaknya pun menderita setiap malam akibat mimpi buruk.

Muhammad Jmasi, 6
Saya takut dengan suara bom ketika mulai mendekat rumah saya. Saya berlari ke ayah dan ia selalu mencoba menenangkan. Namun ketika ayah tidak ada lagi di sekitar kami, saya dan saudara lelakiku kini menjadi sangat ketakutan. Saya ingin bermain lagi dengan teman-teman saya di jalan, dan saya ingin bola baru untuk bermain sepak bola.

Selengkapnya.....

 

Pengikut

Recent Comments