KETERANGAN ULAMA TENTANG KEHARUSAN MEMILIKI ILMU DALAM MEMBERI NASEHAT DAN BERDA'WAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang da'i yang mengajak kepada perbuatan ma'ruf dan melarang orang lain berbuat mungkar, di antaranya, "...Yang dimaksud dengan niat terpuji yang diterima di sisi Allah dan mendapatkan ganjaranNya adalah hendaknya amalan tersebut ditujukan untuk mencari ridha Allah dan yang dimaksud dengan amal terpuji yang merupakan amal saleh adalah amal yang diperintahkan, dan apabila demikian adanya maka orang yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar wajib menerapkan pada dirinya sendiri dua syarat tadi, dan tidaklah disebut amal saleh apabila tidak berdasarkan ilmu dan pemahaman ...."

Kemudian beliau berkata pula, "...maka orang yang menjalankan amar ma'ruf nahi munkar haruslah memiliki ilmu tentang hal yang ma'ruf dan yang mungkar dan dapat membedakan antara keduanya dan harus memiliki ilmu tentang keadaan orang yang diperintah dan yang dilarang."

Dan yang dimaksudkan dengan ilmu adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah utuskan kepadanya dan dia adalah As Sulthan sebagaimana Allah berfirman, "Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka." [Ghafir : 35]

Barangsiapa yang berbicara tentang dien Islam ini bukan dengan apa yang telah Allah utuskan kepada RasulNya, maka ia berbicara tanpa ilmu, dan barangsiapa yang dikuasai oleh syetan maka syetan pasti menyesatkannya dan menuntunnya menuju adzab jahannam yang menyala-nyala. Dan barangsiapa yang tunduk kepada dienullah maka ia telah beribadah kepada Allah dengan keyakinan." [1]

Syaikh Abdul Azis bin Baz rahimahullah (wafat th.1420 H) berkata ketika menceritakan tentang akhlak dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang da'i, "Haruslah da'wahmu itu ditegakkan atas hujjah yang nyata, yaitu berdasarkan ilmu, janganlah engkau jahil dengan apa yang engkau serukan kepada manusia", Allah berfirman, Katakanlah : "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kalian (kepada) Allah dengan hujjah yang nyata." [Yusuf : 108]

Maka haruslah engkau memiliki ilmu, dan ini hukumnya wajib, maka hati-hatilah jangan sekali­kali engkau berýda'wah dengan kebodohan, janganlah sekali-kali engkau berbicara dalam hal­hal yang tidak engkau ketahui, maka orang yang bodoh itu menghancurkan, bukannya membangun, merusak bukannya memperbaiki, maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, hati-hati, janganlah sekali-kali engkau mengatakan sesuatu dengan mengatasnamakan Allah tanpa ilmu, janganlah engkau berýda'wah mengajak orang lain kepada sesuatu, kecuali dengan ilmu tentang hal tersebut, dan hujjah yang nyata itu artinya sesuai dengan firman Allah dan sabda RasulNya.

Maka seharusnya atas setiap penuntut ilmu dan juru ýda'wah agar memperhatikan tentang apa yang ia serukan dan memperhatikan dalilnya, apabila nampak bagi dia kebenaran dan mengetahuinya maka baru dia menýda'wahkannya, menyeru untuk melakukan keta'atan dan melarang kemaksiatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya." [2]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hafidzahullah berkata ketika beliau menjelaskan tentang bekal-bekal juru ýda'wah, di antaranya adalah, "Hendaklah seorang da'i memiliki bekal ilmu dalam berýda'wah. Ilmu yang benar bersumber dari Al-Qur'an dan As Sunnah karena setiap ilmu harus digali dari keduanya. Adapun ilmu yang datang kepada kita harus diperiksa terlebih dahulu apakah sesuai dengan Al-Qur'an dan As Sunnah atau tidak. Apabila sesuai maka harus diterima, dan apabila bertentangan wajib ditolak siapa pun yang menyatakannya." Ibnu Abas radliyallahu'anhuma telah berkata, "Hampir saja batu terjatuh dari langit menimpa kalian", aku mengatakan Rasulullah bersabda dan kalian mengatakan, "Abu Bakar dan Umar berkata, "Apabila ucapan Abu Bakr dan Umar sebagai seorang khalifah dan shahabat yang menyalahi sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam harus ditolak, maka bagaimana kiranya dengan pendapat seorang yang jauh di bawah mereka berdua dalam hal ilmu dan taqwa ? tentu lebih utama untuk ditolak ucapannya".

Sungguh Allah Subhana wa Ta'ala telah berfirman, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." [An-Nur : 63]

Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Tahukah engkau apakah fitnah itu ? Fitnah itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa."

Sesungguhnya bekal yang pertama yang harus dimilki seorang da'i yang menyeru manusia kepada agama Allah, haruslah ia memiliki ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits yang shahih, adapun da'wah tanpa ilmu maka sesungguhnya ia adalah da'wah berdasarkan kebodohan dan da'wah berdasarkan kebodohan lebih banyak merugikan dari pada manfaatnya dikarenakan si da'i ini telah menobatkan dirinya sebagai orang yang sesat dan menyesatkan, kami memohon pelindungan kepada Allah dari yang demikian itu, dan orangnya disebut dengan jahil murakkab (bertumpuk-tumpuk), kebodohan yang bertumpuk-tumpuk ini lebih berbahaya dari pada kebodohan yang ringan, orang yang bodoh ringan (yaitu merasa dirinya bodoh, pent) dia tidak akan berbicara dan dengan belajar ia dapat menghilangkan kebodohannya, tetapi problem yang sangat besar itu pada diri orang bodoh bertumpuk-tumpuk karena dia tidak akan diam bahkan terus berbicara meskipun dengan kebodohan. Maka ia lebih banyak menjadi perusak dan penghancur dari pada menjadi pemberi cahaya.

Wahai saudara-saudara, sesungguhnya da'wah menyeru kepada agama Allah tanpa didasari ilmu menyalahi praktek Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan para pengikutnya. Dengarkanlah firman Allah Ta'ala ketika memerintahkan NabiNya, Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dalam firmanNya, Katakanlah : "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujjah (ilmu) yang nyata." [Yusuf : 108]

Pada kalimat "Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) dengan hujjah (ilmu) yang nyata", maka haruslah seorang da'i untuk menyeru kepada agama Allah berdasarkan ilmu bukan berdasarkan kebodohan.

Dan perhatikanlah, wahai da'i, firman Allah Ta'ala, [dengan hujjah (ilmu)], yaitu dalam tiga perkara :

  1. Dengan ilmu tentang apa yang ia sampaikan, hendaklah ia mengetahui hukum syari'at karena boleh jadi seseorang mengajak orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang disangkanya sebagai suatu kewajiban, padahal sesungguhnya dalam syari'at Allah perbuatan tersebut tidaklah wajib maka ia telah mengharuskan manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak diharuskan oleh Allah, dan sebaliknya boleh jadi ia melarang orang lain melakukan suatu perbuatan yang disangkanya sebagai hal yang haram, padahal sesungguhnya dalam dien Allah bukanlah suatu yang haram, maka ia telah mengharamkan manusia apa-apa yang Allah halalkan untuk mereka.
  2. Dengan ilmu tentang keadan orang yang dida'wahi, oleh karena itu ketika Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal radhiallahu 'anhu ke negeri Yaman beliau berpesan kepadanya, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab," agar Muadz mengetahui dan bersiap-siap untuk menghadapi mereka. Maka haruslah engkau mengetahui keadaan orang yang dida'wahi, sejauh mana kapasitas ilmunya ? Sejauh mana kemampuan
    bicaranya ?. Supaya engkau memposisikan diri secara matang untuk berdiskusi dengannya
    , karena seandainya engkau dalam kebenaran berdebat dengan orang yang jauh lebih pandai dalam berbicara, maka engkaulah yang akan terpojokkan. Maka, jadilah musibah besar terhadap kebenaran sehingga disangka sebagai kebatilan dan engkau adalah penyebabnya, dan janganlah engkau menyangka bahwa pendukung kebatilan itu mesti kalah dalam berbicara
    pada setiap keadaan. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda yang artinya, "Sesungguhnya kalian berselisih dan mengadukan kepadaku, dan barangkali sebagian di antara kalian lebih pandai dalam berbicara membawakan alasan-alasannya dibandingkan dari yang lain, maka aku memutuskan yang menguntungkannya disebabkan yang aku dengar." Ini menunjukkan bahwa orang yang berselisih tadi, meskipun di pihak yang batil dikarenakan ia lebih pandai dalam berbicara mengemukakan alasannya, maka diputuskan sesuai dengan apa yang telah diutarakan oleh orang tersebut. Oleh karena itu, haruslah engkau mengetahui keadaan orang yang dida'wahi.
  3. Dengan ilmu tentang cara berda'wah. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik" [An-Nahl : 125]

Sebagian manusia ketika ia melihat kemungkaran segera menyerangnya, tanpa befikir dampak dari perbuatannya, bukan saja berkenaan dengan dia pribadi, tetapi dampaknya bagi dia dan teman- temannya sesama da'i. Oleh karena itu wajib atas setiap da'i sebelum bergerak melakukan sesuatu, memikirkan apa yang mungkin akan terjadi dan menimbangnya, boleh jadi pada saat itu ia dapat melampiaskan gejolak kecemburuannya dengan pengingkaran tersebut, tetapi dalam waktu yang dekat setelah pengingkaran tadi dapat memadamkan api kecemburuan dia dan orang lain. Oleh karena itu, saya menganjurkan saudara-saudaraku para da'i untuk menggunakan hikmah dan ketelitian, dan perkara ini meskipun terlambat sedikit tetapi membawa akibat yang terpuji dengan kehendak Allah.

Pentingnya seorang da'i berbekal dengan ilmu yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah disamping telah terdapat dalil-dalilnya dalam nash-nash syari'at juga akal yang sehat ikut membuktikan juga, karena bagaimana mungkin engkau berda'wah menyeru manusia kepada dien Allah sedangkan engkau tidak mengetahui jalan menujuNya, tidak mengetahui syari'atNya, bagaimana bisa ia dikatakan sebagai da'i ?!

Apabila sesorang belum memiliki ilmu, maka sepantasnya ia belajar terlebih dahulu kemudian baru berda'wah. Boleh jadi ada seorang yang bertanya, "Apakah ucapanmu tadi bertentangan dengan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, "Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat ?"

Maka saya menjawab, "Tidaklah bertentangan, karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sampaikanlah dariku," kalau begitu apa yang kami sampaikan itu harus berasal dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, inilah yang kami inginkan, ketika kami berkata bahwa seorang da'i membutuhkan ilmu bukan berarti kami mengharuskan ia memiliki ilmu yang sangat luas, tetapi kami menyatakan janganlah seorang menyampaikan sesuatu kecuali dengan apa yang ia ketahui saja, janganlah ia berbicara dengan sesuatu yang tidak ia ketahui." [3]

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]

Foote Note :

[1]. Majmu'Fatawa, juz 28 hal. 39. Dinukil dari buku Dhowabit All-Amri bil ma'rufi wan nahyi 'anil mungkari inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah

[2]. Wujubud ýda'wah ilallahi wa akhlakud du'at, hal.50

[3]. Zaad Ad-Daa'iyah ilallah, hal 6-10

Selengkapnya.....

KEINGINAN MENUNTUT ILMU TETAPI PROBLEM YANG DIHADAPI SELALU LUPA DAN TIDAK INGAT ILMU YANG DIDENGARKAN

Oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Pertanyaan :

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Saya seorang yang mempunyai keinginan untuk menuntut ilmu dan ingin memberi manfaat kepada orang lain. Akan tetapi problem yang dihadapi adalah selalu lupa dan tidak teringat sedikitpun dalam pikiran saya akan ilmu yang saya dengarkan. Apakah nasehat Syaikh kepada saya ? Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan antum ya Syaikh.

Jawaban :

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, manusia berbeda-beda dalam menuntut ilmu, tidak setiap penuntut ilmu hafal ilmu yang telah ia dengarkannya. Akan tetapi (ia tentu) hafal sedikit dari ilmu yang ia dengarnya. Dan ilmu itu diperoleh sedikit demi sedikit, jika (terus) diulang-ulang maka akan hafal. Saya menasehati agar berusaha dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Qur’an. Karena menghafal itu adalah suatu tabiat, dengan menghafal dan mengulangi maka hafalan akan terus bertambah dan akan semakin kuat.

Barangsiapa bersungguh-sungguh ia akan dapati bahwa dengan menghafal Al-Qur’an akan memulai jalan untuk membuka “daya hafalannya”. Jika penanya belum hafal Al-Qur’an, hendaklah menghafal Al-Qur’an. Oleh karena itu sejumlah ulama pada masa lalu tatkala seorang penuntut ilmu masuk ke masjid ingin berguru dan menuntut ilmu kepada para syaikh setiap hari, sedangkan ia belum hafal Al-Qur’an, maka para syaikh tersebut berkata kepadanya, “Hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu! Setelah hafal kembalilah kepada kami! (yang demikian itu) karena menghafal Al-Qur’an akan membukakan “kekuatan untuk mengingat”.

Oleh karena seseorang yang telah mencoba menghafal Al-Qur’an, misalnya ia menghafal 10 juz, butuh waktu 8 jam untuk menghafalkannya, lalu membutuhkan pengulangan, akan tetapi setelah itu pada 20 juz yang terakhir, akan mudah dan mudah (sekali), hingga barangkali hafal 3/8 dari ½ juz dalam waktu antara maghrib dan isya atau sesudah subuh. Ini adalah suatu kenyataan, karena daya ingat akan terus bertambah jika selalu dilatih dan dipraktekkan. Oleh karena itu saya menasehatinya agar menghafal Al-Qur’an dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena ilmu akan bertambah dengan izin Allah Jalla Jalaluhu dan hafalan akan datang insya Allah.

 

KEADAAN PENUNTUT ILMU YANG TINGGAL DI NEGERI YANG JAUH DARI ULAMA SEPERTI DI EROPA

Pertanyaan :
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Bagaimanakah dengan keadaan seorang penuntut ilmu yang rindu untuk duduk di majelis-majelis ilmu, akan tetapi mereka tinggal di negeri yang jauh dari para ulama, seperti keadaan kami di Eropa ?

Jawaban :
Segala puji bagi Allah Jalla Jalaluhu, saat ini cara-cata untuk mendengarkan ilmu dari ahli ilmu mudah. Ada kaset-kaset, bisa melalui internet, dan cara-cara lain yang mana seseorang dapat mendengarkan dan melihat ahli ilmu. Maka (saat ini) untuk mendapatkan ilmu dari ulama yang masih hidup maupun yang sudah meninggal (semoga Allah Jalla Jalaluhu merahmati dan mengangkat derajat mereka semua di surgaNya) mudah sekali. Jika anda tidak dekat dengan ahli ilmu untuk mendapatkan ilmu secara langsung maka berusahalah dan giatlah selalu untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran dan penjelasan-penjelasan mereka melalui kaset-kaset

 

MELAWAN RASA PUTUS ASA

Pertanyaan : 
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Bagaimana saya melawan rasa putus asa dan kemauan yang lemah dalam menuntut ilmu agama ?

Jawaban :
Yang pertama, anda melawannya dengan bersandar dan berdo’a kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian anda baca dan dengarkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu, kedudukan ahli ilmu dan orang-orang yang berilmu, kedudukan ahli ilmu serta besarnya pahala ahli ilmu, besarnya pahala menuntut ilmu, keutamaan menuntut ilmu, dan akhlak para dai, serta keutamaan menyampaikan petunjuk dan kebaikan. Engkau baca ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini, bahkan bacalah tafsirnya, hadits-haditsnya, maka Allah Jalla Jalaluhu akan memberikan kepadamu kemauan yang tinggi dalam menuntut ilmu.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo’dah 1423/Januari 2003. Diterbitkan : Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 45 Surabaya]

Selengkapnya.....

LUPA ILMU YANG TELAH DIPELAJARI & KELUARNYA WANITA UNTUK MENUNTUT ILMU

Oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Pertanyaan : 
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Saya telah menuntut ilmu beberapa tahun, tetapi ilmu yang saya pelajari tidak dapat kokoh menetap (dalam hati) dan saya tidak merasakan faedahnya ?! Nasehatilah kami!

Jawaban :
Jangan mengatakan saya tidak dapat faedahnya, karena seorang penuntut ilmu itu berada dalam suatu ibadah, dan tujuan menuntut ilmu itu adalah ridho Allah Jalla Jalaluhu atas hamba, dan kalian telah mengetahui (sebuah hadits) seorang lelaki yang datang dalam keadaan bertaubat dan malaikat maut datang untuk menjemput nyawanya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentang keadaan orang tersebut. Malaikat rahmat berkata : “Ia datang dalam keadaan bertaubat menghadapkan hatinya kepada Allah Jalla Jalaluhu, sedangkan malaikat azab berkata, “Ia belum beramal sedikitpun. Lalu datanglah malaikat dalam bentuk manusia, malaikat rahmat dan malaikat azab menjadikannya sebagai hakim. Malaikat itu berkata : “Ukurlah di antara dua tempat (tempat yang dituju dan tempat yang ditinggalkan), jika dekat dengan salah satu dari dua tempat itu maka ia termasuk golongannya. Merekapun mengukur dan didapati bahwa orang yang bertaubat lebih dekat dengan tempat yang dituju, maka malaikat rahmatpun membawanya. Lelaki yang bertaubat ini diampuni, Karena perginya ia (ke tempat kebaikan) dinilai baik baginya.

Dengan demikian langkah penuntut ilmu adalah ibadah, sebagaimana langkah seorang yang behijrah untuk bertaubat ke negeri yang baik. Dan menuntut ilmu lebih baik bagimu dari melakukan shalah sunnah, atau ibadah-ibadah sunnah lainnya. Oleh sebab itu kita harus mempunyai niat yang baik, dan bukanlah tujuan menuntut ilmu agar anda menjadi seorang alim atau tetap sebagai penuntut ilmu. Akan tetapi tujuan engkau menuntut ilmu adalah menghilangkan kebodohan dari dirimu, dan agar beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu dengan ibadah yang benar, dan anda selamat dari syubhat, selamat dari cinta kemashuran.

Allah berfirman, “Pada hari harta dan anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” [Asy-Syu’araa : 88-89], dan di ayat yang lain, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kami tidak menyia-nyiakan amal orang yang berbuat baik” [Al-Kahfi : 30]

Dan jika anda tidak dapat memberi manfaat kecuali hanya dirimu dan keluargamu, tentulah yang demikian itu terdapat kebaikan yang banyak.

 

KELUARNYA WANITA UNTUK MENDAPATKAN ILMU

Pertanyaan : 
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Apakah hukum keluarnya wanita untuk mendapatkan ilmu dari sekolah-sekolah atau untuk mengajar? Demikian juga perginya mereka ke tempat-tempat menghafal Al-Qur’an?

Jawaban :
Pada dasarnya wanita itu saudara kaum lelaki dalam beban dan kewajiban syariat serta dalam perkara-perkara syariat yang dikehendaki dari mereka. Wanita itu seperti laki-laki dalam kewajiban-kewajiban agama kecuali pada hukum yang dikhususkan untuk wanita dan penuntut ilmu. Wanitapun diarahkan untuk menuntut ilmu dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menuntut ilmu, akan tetapi dengan syarat-syarat yang sesuai dengan syariat diantaranya dengan seizin walinya, dan tidak ada padanya perkara-perkara yang tidak terpuji, tidak melalaikan pekerjaan/tugas di rumah suaminya atau pada anak-anaknya dan lainnya. Jika terpenuhi syarat-syarat tersebut dan tidak ada penghalangnya, maka upaya seorang wanita dalam menuntut ilmu mempunyai fadhilah yang besar.

Pada saat ini kita membutuhkan para wanita untuk pendidikan dan dakwah. Karena banyaknya wanita-wanita pendatang, dan karena kebutuhan wanita pada bidang ini, mudah-mudahan Allah Jalla Jalaluhu memberi petunjuk kepada mereka. Oleh karena itu saya wasiatkan kepada para wanita agar menuntut ilmu, akan tetapi hendaknya menuntut ilmu yang batasannya nafilah (tambahan) bagi mereka, tidak didahulukan dari kewajiban yang harus mereka tunaikan.

Karena sebagian wanita, kadang-kadang menelantarkan suaminya, atau rumahnya, atau anak-anaknya dan lainnya. Maka akibatnya timbul perkara-perkara yang tidak terpuji. Oleh sebab itu hendaklah seorang wanita menimbang-nimbang dalam masalah ini dan mendapatkan maslahat hingga tertolaklah kerusakan, dan bagi wanita akan mendapat pahala sesuai dengan niatnya – insya Allah-.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo’dah 1423/Januari 2003. Diterbitkan : Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 45 Surabaya]

Selengkapnya.....

MENUNTUT ILMU HANYA BERSANDAR PADA KASET-KASET CERAMAH DAN MENGGAMPANGKAN UNTUK DUDUK DI HALAQAH-HALAQAH ILMU

Oleh
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Pertanyaan :
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Semoga Allah Jalla Jalaluhu menjadikan kebaikan bagi Syaikh, sebagian pemuda hanya bersandar pada kaset-kaset dalam menuntut ilmu, dimana mereka menggampangkan dalam duduk di halaqah-halaqah (tempat pengajian) dengan alasan bahwa pelajaran Syaikh ini direkam dan ada kasetnya ?! Apa nasehat Syaikh kepada mereka.

Jawaban :
Mendengarkan secara langsung dengan menghadiri pelajaran-pelajaran terdapat beberapa manfaat yang tidak dijumpai dari hanya mendengarkan ilmu (melalui kaset saja). Tidak dapat diragukan lagi bahwa mendengarkan ilmu melalui kaset terdapat faedah dan banyak manfaatnya, karena engkau mendengarkan ilmu dari ahli ilmu yang kokoh ilmunya, akan tetapi di sana terdapat perkara-perkara lain yang tidak didapati jika kita mendengarkan ilmu hanya melalui kaset-kaset diantaranya.

  1. Duduk bersama para penuntut ilmu lainnya dalam sebuah halaqah di masjid, hal ini memberikan perkara-perkara ibadah dan jiwa bagi penunutut ilmu.
  2. Mengambil manfaat dari petunjuk pengajar dalam ucapan, pandangan, pendidikan dan pengajarannya, cara mengingatkannya, jalannya, cara menyelesaikan perkara, bagaimana ketika menghadapi suatu perkara, bagaimana cara menjawab, bagaimana bermualamah dengan orang yang menyalahinya, dengan orang yang kurang baik adabnya, dengan orang-orang yang memuliakan secara berlebih-lebihan. Semua adab-adab ini diperoleh dari petunjuk para ulama dengan cara duduk menuntut ilmu dihadapan mereka.
  3. Selain itu ada hal-hal berupa ibadah (yang dapat dicontoh dari para ulama) seperti rasa takut kepada Allah Jalla Jalaluhu. Sedangkan engkau jika melihat para ulama dalam membimbing manusia dalam beribadah, berdzikir, dan kesungguhan mereka dalam berbuat kebaikan, engkau akan terpengaruh dalam suatu perkara yang engkau memerlukannya yaitu istiqomah dan ketekunan dalam ibadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Adapun mendengar ilmu melalui kaset, kamu hanya dapat mendengarkan ilmu akan tetapi tidak dapat melihat petunjuk para ulama, ibadahanya, shalatnya, kesegeraannya ke masjid, kesungguhannya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, hafalannya, shalat malamnya dan semisal itu, yang mana hal-hal tersebut hanyalah didapati dari berguru dan mendengarkan ilmu secara langsung. Oleh karena itu Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Guru kami itu, tidaklah kami hadir di majlisnya kecuali manfaat yang kami dapati dari tangisannya (karena takut kepada Allah Jalla Jalaluhu), melebihi manfaat yang kami dapati dari ilmunya”. Beliau mendapatkan ilmu dari guru beliau, akan tetapi faedah yang beliau dapatkan dari tangisan, rasa takut guru beliau kepada Allah Jalla Jalaluhu, dan sikap wara’nya, lebih banyak dari mendapatkan ilmu guru beliau.

Hal-hal ini memberikan pengaruh bagi penuntut ilmu. Sesungguhnya penuntut ilmu itu akan sangat terpengaruh oleh sosok kepribadian seorang guru dan akhlaknya, bagaimana gurunya bermu’amalah dan bagaimana gurunya menangis karena takut kepada Allah Jalla Jalaluhu, bagaimana gurunya shalat, bagaimana gurunya banyak membaca Al-Qur’an, bagaimana kekhusuannya, bagaimana ia bermuamalah dengan keluarganya. Sedangkan mendengarkan kaset tidak mengetahui hal-hal seperti itu. Mendengarkan ilmu melalui kaset itu penting, akan tetapi seseorang harus berguru dihadapan ulama sehingga tidak luput darinya sisi-sisi kebaikan lainnya.

 

MENGHILANGKAN KEBODOHAN

Pertanyaan :
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Saya tidak mampu menjadi “Syaikh Rabbani”, karena saya tidak mempunyai kecerdasan yang kuat, dan alasan-alasan lainnya, apa nasihat Syaikh kepadaku?

Jawaban :
Saya menasehatimu sebagaimana saya telah menasehati saudaramu sebelum ini, bukanlah syarat penuntut ilmu itu harus menjadi seorang alim rabbani. Mintalah kepada Allah Jalla Jalaluhu petunjuk, dan anda tidak mengetahui jika anda mampu untuk menekuni ilmu dan menjadi seorang alim yang terkemuka, apakah ini baik ataukah malah bencana bagimu ?

Tujuan menuntut ilmu adalah :

  1. Anda berniat menghilangkan kebodohan dari diri anda.
  2. Mengharapkan ridha Allah Jalla Jalaluhu, karena anda telah menempuh jalan untuk menunutut ilmu.
  3. Anda berniat agar hati dan anggota tubuh menjadi baik.

Maka tuntuntlah ilmu, jika Allah Jalla Jalaluhu menempatkan anda kedudukan seorang alim rabbani, ini adalah karunia dan nikmat Allah Jalla Jalaluhu, dan pengetahun tentang hal ini hanya ada padaNya. Dan kalau tidak demikian halnya, maka anda adalah seorang penuntut ilmu. Allah Jalla Jalaluhu berfirman, "Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” [Al-Qashas : 68]

Saya memohon kepada Allah Jalla Jalaluhu agar memberi petunjuk bagi anda dan saudara­saudara anda sekalian, dan bagi seseorang yang mengharapkan kebaikan dan belum mendapatkan apa yang ia harapkan, (saya nasehati dengan syair dari Syinqithi), “Wahai pemuda janganlah berburuk sangka terhadap ilmu, karena sesungguhnya, buruk sangka terhadap ilmu adakah kebinasaan”.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo’dah 1423/Januari 2003. Diterbitkan : Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 45 Surabaya]

Selengkapnya.....

 

Pengikut

Recent Comments